PENTINGNYA MENGHADIRKAN NIAT DALAM SETIAP PERBUATAN

Niat berasal dari Bahasa Arab نية (niyyat) yang berarti maksud, tujuan, motif, keinginan, kehendak. Secara istilah niat dapat didefinisikan sebagai keinginan hati yang diikuti dengan perkataan atau perbuatan.


HADITS TENTANG NIAT

HR. Bukhari Nomor 1
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
innamal a`mâlu binniyyât
Setiap perbuatan itu tergantung dengan niatnya.[1]

Setiap tindakan atau perbuatan dapat didasari dengan niat yang berbeda. Misalnya ketika kita berusaha hijrah (berubah menjadi lebih baik). Jika kita hijrah supaya mendapatkan perhatian dari orang lain, maka kita hanya akan mendapatkan perhatian tersebut.

Jika kita hijrah untuk mendapatkan harta dunia, maka kita juga akan mendapatkan harta dunia saja.

Hadits di atas masih ada lanjutannya : "Setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya akan menuju kepada Allah dan rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan mendapatkan apa yang dia niatkan."


PENTINGNYA MANAJEMEN HATI

QS. Al-Baqarah (2) : 225
Allah B berfirman:[2]
Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.

Niat adalah perkara hati, dan Allah B Maha Mengetahui segala isi hati. Oleh karena itu, penting sekali untuk kita sebagai seorang hamba, meluangkan waktu barang sejenak, menyempatkan diri untuk konsentrasi dan fokus dalam menata hati dan meluruskan niat.

Bahkan jika perlu kita muhasabah, koreksi dan evaluasi diri, untuk apa sebenarnya saya melakukan hal ini.

Hal ini perlu dilakukan supaya kita tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap atau keputusan yang akan menentukan setiap langkah dalam hidup kita.


BOLEHKAH NIAT DIUCAPKAN?

bolehkah mengucapkan niat?
HR. Ahmad Nomor 10537
Rasulullah C bersabda[3] :
Sesungguhnya Allah ﷻ tidak melihat bentuk tubuh dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amalan kalian.

Banyak Muslim di Indonesia yang membaca atau mengucapkan niat (usholli, nawaitu) sebelum memulai ibadah, apakah ini diperbolehkan? Mazhab Syafi'i, Mazhab Hanbali, dan Muhammad asy-Syaibani dari kalangan al-Hanafiyyah, berpendapat bahwa disunnahkan melafazkan niat sebelum memulai ibadah.

Lafaz niat ini dimaksudkan untuk menguatkan dan menetapkan niat di dalam hati. Tentunya harus ada kesamaan antara lafaz niat dengan apa yang dimaksudkan di dalam hati.

Sebagian ulama dari kalangan al-Hanafiyyah dan al-Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh (disunnahkan untuk meninggalkannya).

Mazhab Maliki berpendapat bahwa melafazkan niat merupakan khilaf al-aula. Maksudnya, hal itu dibolehkan untuk dilakukan, namun dengan meninggalkannya dianggap lebih baik. Kecuali bagi yang biasa dihinggapi was was dalam hatinya setiap kali hendak melakukan ibadah, maka dalam kondisi ini ia dianjurkan untuk melafazkannya.

Adakah hadits yang memperbolehkan membaca atau mengucapkan niat?

HR. Muslim Nomor 2101
Rasulullah ﷺ pernah datang[4] ke rumah Dhuba`ah binti Zubair, lalu beliau bertanya,
"Adakah kamu bermaksud hendak naik haji?"

Jawab Dhuba`ah, "Aku sakit ya Rasulullah!"

Beliau bersabda, "Hajilah dengan niat bersyarat. Ucapkanlah, 'ALLAHUMMA MAHILLI HAITSU HABASTANI' (Ya Allah, aku akan tahalul jika Engkau menahanku -bila tambah sakit dan tak sanggup meneruskannya-)."

Niat adalah perkara hati antara seorang hamba dengan Allah B. Niat cukup di dalam hati tanpa diucapkan, dengan bahasa kita sehari-hari.

Dan yang paling penting adalah JANGAN SAMPAI LUPA MEMBACA BISMILLAH.

lâ ḫawla wa lâ quwwata illâ billâh

Wallâhu A`lam Bish Showâb


REFERENSI AYAT AL-QUR'AN DAN HADITS NABI

[1] Hadits tentang Setiap Amalan Tergantung Niat :
HR. Bukhari 1, 52 / 1, 54
HR. Bukhari 1, 52 / 1, 54 Fathul Bari
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami al-Humaidi Abdullah bin az-Zubair, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id al-Anshari, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, bahwa ia pernah mendengar Alqamah bin Waqash al-Laitsi berkata: Aku pernah mendengar Umar bin al-Khaththab di atas mimbar berkata:

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya tertuju apa yang ia niatkan."
HR. Bukhari 3609 / 3898
HR. Bukhari 3609 / 3898 Fathul Bari
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Hammad, putra dari Zaid, dari Yahya dari Muhammad bin Ibrahim dari 'Alqamah bin Waqash berkata, aku mendengar 'Umar radhiallahu'anhu berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:,

"Setiap amal tergantung dengan niat. Maka siapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin didapatkannya atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dia niatkan, dan barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya".
HR. Nasa'i 74, 3383 / 75, 3437
HR. Nasa'i 74, 3383 / 75, 3437 Maktabatu Al-Ma`arif Riyadh
أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَرَبِيٍّ عَنْ حَمَّادٍ وَالْحَارِثُ بْنُ مِسْكِينٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ ابْنِ الْقَاسِمِ حَدَّثَنِي مَالِكٌ ح و أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ وَاللَّفْظُ لَهُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib bin 'Arabi dari Hammad dan Al Harits bin Miskin, telah dibacakan kepadanya dan saya mendengarnya dari Ibnu Qasim, telah menceritakan kepadaku Malik, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Manshur dia berkata, telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Mubarak dan lafazhnya dari dia, dari Yahya bin Sa'id dari Muhammad bin Ibrahim dari Al Qomah bin Waqqash dari Umar bin Khatthab radhiallahu'anhu, dia berkata,

Rasulullah ﷺ bersabda, "Semua perbuatan tergantung niat, dan (balasan) bagi tiap orang (tergantung) yang diniati, barang siapa berniat hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapai atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahi, maka hijrahnya sekedar yang diniatinya."
HR. Ahmad 163, 283
HR. Ahmad 163, 283
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah memberitakan kepada kami Yahya bin Sa'id bahwa Muhammad bin Ibrahim, telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia mendengar 'Alqamah bin Waqqas Al Laitsi berkata, bahwa dia mendengar Umar bin Al Khaththab berkhotbah di hadapan manusia dan berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

"Perbuatan itu hanya tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan, barang siapa Hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya akan menuju kepada Allah dan rasul-Nya, dan barang siapa Hijrahnya untuk mendapatkan keduniaan atau untuk seorang wanita yang akan dinikahinya, maka Hijrahnya akan mendapatkan apa yang dia niatkan."
[2] Ayat Al-Qur'an tentang Pentingnya Niat :
QS. Al-Baqarah (2) : 225
QS. Al-Baqarah (2) : 225
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِا للَّغْوِ فِيْۤ اَيْمَا نِكُمْ وَلٰـكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوْبُكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ٢٢٥
lâ yu'âkhidzukumullâhu bil-laghwi fî aimânikum wa lâkiy yu'âkhidẓukum bimâ kasabat qulûbukum, wallâhu ghafûrun ḫalîm
Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.
[3] Hadits tentang Allah ﷻ Melihat Hati :
HR. Ahmad 10537
HR. Ahmad 10537
حَدَّثَنَا كَثِيرٌ حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Katsir, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ja'far, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Al Asham dari Abu Hurairah, ia berkata,

Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak melihat bentuk tubuh dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amalan kalian."
HR. Muslim 4651 / 2564
HR. Muslim 4651 / 2564 Syarh Shahih Muslim
حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami 'Amru an-Naqid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Burqan, dari Yazid bin al-Asham, dari Abu Hurairah, ia berkata:

Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, namun yang Allah lihat adalah hati dan amal kalian."
HR. Ibnu Majah 4133 / 4143
Sunan Ibnu Majah 4133 / 4143 Maktabatu Al-Ma`arif Riyadh
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى أَعْمَالِكُمْ وَقُلُوبِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinan, telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Burqan, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Al Asham dari Abu Hurairah yang dimarfu'kan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda,

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia hanya memandang kepada amal dan hati kalian."
[4] Hadits tentang Mengucapkan Niat :
HR. Muslim 2101 / 1207
HR. Muslim 2101 / 1207 Syarh Shahih Muslim
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضُبَاعَةَ بِنْتِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ لَهَا أَرَدْتِ الْحَجَّ قَالَتْ وَاللَّهِ مَا أَجِدُنِي إِلَّا وَجِعَةً فَقَالَ لَهَا حُجِّي وَاشْتَرِطِي وَقُولِي اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي وَكَانَتْ تَحْتَ الْمِقْدَادِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Ala` Al Hamdani, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari bapaknya dari Aisyah radhiallahu'anha, ia berkata,

Rasulullah ﷺ pernah datang ke rumah Dhuba'ah binti Zubair, lalu beliau bertanya, "Adakah kamu bermaksud hendak naik haji?"

Jawab Dhubabah, "Aku sakit ya Rasulullah!" beliau bersabda, "Hajilah dengan niat bersyarat. Ucapkanlah, 'ALLAHUMMA MAHILLI HAITSU HABASTANI (Ya Allah, aku akan tahalul (berhenti) jika Engkau menahanku -bila tambah sakit dan tak sanggup meneruskannya-).'" Saat itu, Dhuba'ah adalah istri dari Miqdad.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian, namun yang Allah lihat adalah hati dan amal kalian."
HR. Ahmad 25376
HR. Ahmad 25376
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ فَزَعَمَ ابْنُ إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُبَاعَةَ بِنْتَ الزُّبَيْرِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهِيَ شَاكِيَةٌ فَقَالَ أَلَا تَخْرُجِينَ مَعَنَا فِي سَفَرِنَا هَذَا وَهُوَ يُرِيدُ حَجَّةَ الْوَدَاعِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي شَاكِيَةٌ وَأَخْشَى أَنْ تَحْبِسَنِي شَكْوَايَ قَالَ فَأَهِلِّي بِالْحَجِّ وَقُولِي اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ تَحْبِسُنِي

Telah menceritakan kepada kami Ya'qub dia berkata, telah menceritakan kepadaku Ayahku, berkata Ibnu Ishaq, dari Abu Bakr bin Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari Ummu Salamah berkata,

"Rasulullah ﷺ pernah mendatangi Dhuba'ah binti Azzubair bin Abdul Muthallib, ia sedang sakit." Lantas beliau bertanya, "Kenapa engkau tidak ikut pergi safar bersama kami?" Hal itu karena beliau ingin melakukan haji wada.'

Ia berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku sedang sakit. Aku khawatir sakitku akan menghalangiku."

Beliau bersabda, "Berniatlah untuk berhaji, dan ucapkanllah: ALLAHUMMA MAHILLI HAITSU TAHBISUNI (Ya Allah, sesungguhnya tempatku untuk bertahalul adalah dimana Engkau menahanku)."

Post a Comment

Previous Post Next Post